Author: Komit Putri

247 views

Menghadapi Era Disrupsi Ala Santri

Menjalani kehidupan sebagai santri laksana mengunyah permen karet, terasa alot saat dikunyah, tetapi akan berasa manis, padahal sebentar lagi manisnya akan hilang dan tidak boleh ditelan. Kalau ditelan akan berbahaya bagi saluran pencernaan. Tentunya di tiap legitnya lapis kehidupan, tidak selalu harapan sesuai dengan realitas sunnatullah. Ada banyak hal yang perlu di syukuri dengan tahmid bil lisan maupun bil hal. Kesemuanya jalur hidup, baik suka maupun duka harus dijalani dengan sabar. Santri yang nyambi kuliah tentunya tidak mudah di jalani. Terkadang di beberapa situasi akan ada pertempuran yang memaksa untuk memilih salah satu atau kalau beruntung bisa mendapatkan dua...

Read More

Acuhkan Pencaci

Oleh : Arina Zulfa Kala tetes air mata menderasMenganak sungai di kedua pipikuNapasku ikut tersengalAku duduk menyendiri di balkonSeraya menggores pena dihempas angin Hatiku mungkin terasa teririsSeakan belati menyayat hatikuTerasa udara berhenti di rongga hidungkuKakiku tak sanggup bergemingTubuhku lemas, kaku, dan mematung Berat diri ini, menyangga hidupTapi, bukan lantas aku mundurHidupku bukan tanam cabutTapi, tanam terus tumbuhKubiarkan Sang Ilahi menyuburkanku Dalam gulir waktuDetik merekam janjikuMenit mencatat janjikuJam mendengar janjikuHari menjilid janjiku Meski orang mengoceh seribu kataKan ku biarkan itu terhapus janjikuDi sini aku bukan sekadar menumpangTapi, jalanku adalah setapak juangTangisku adalah bahan bakarnya Masa terus merodaTak ku ketahui apa...

Read More

Merunduk Dalam Ikhlas

Oleh: Arina Zulfa Sajak bumi, berdendangBukit terjal, perdengarkan melodi alamOrkestra alam merdu dirasaSuitan burung, tumbuhkan sebatang bambu Hijau bambu, muda umurnyaKuat, rapat, tanpa sekaratTajam mendaratDi dada pengerat Duhai bambu, sel batangmu mencerca doaDialah, Kiaiku….Sang, murobbi ruhina..Dialah pengajar tanpa upah Duhai bambu, apikal batangmu berseruSetinggi apapun mengayunJangan lupa menunduk pada bumiApa lagi di depan kiai Duhai bambu, ruas batangmu berlikuPun hanya semu pada bayangNamun, kiai tak pernah semu dalam likuTapi, petuah lahir dari keikhlasan Condong Catur, 2 Februari...

Read More

Harap Lupa Berkemelut

Oleh : Arina Zulfa   Berselimut pada hamparan bumi Berselimut dengan sejuta nestapa Hening mengendap dalam hati Tetapi makar hiruk pikuk lebih mengkudeta   Aku, seolah berada di antara keremangan Gelap tidak Terang pun juga tidak Tak terdefinisi pula   Kejam, waktu menyiksaku Memenjaraku dalam angan Memenjaraku dalam setiap langkah diri Seakan menetap bagai stempel   Sungguh kuingin berhibernasi Menyelam sejauh alam mimpi Agar kulupa segalanya Lupa akan semua tumpukan...

Read More

Malaikat Berwajah Teduh

oleh Khoirotun Nisa Senja yang syahdu. Beriringan dengan hembusan pelan nafas sang angin. Nafas yang sejuk. Menggelitik jiwa-jiwa yang berkabut. Sinar sang penerang yang berwarna merah jingga menyambut hangat hamba-hamba haus rindu.  Rindu akan keindahan panorama langit lukisan alam semesta. Langit yang sangat indah, diiringi dengan alunan musik alam raya, sebuah alunan lagu yang kian lama kian menipis. Larut bersama dengan redupnya hangat sinar sang mentari. Adzan berkumandang, suara merdu yang datang dari sebuah Masjid dengan bangunan kuno khas Yogyakarta. Bangunan yang dikelilingi oleh beberapa komplek dengan penghuni yang berjumlah ribuan. Tepatnya Masjid sebuah Pesantren Mahasiswa di Yogyakarta. Di Pesantren inilah tempat para santri menuntut ilmu dan mencari berbagai pengalaman baru seperti kuliah. Di sudut ruang Masjid itu aku duduk dengan terkantuk-kantuk, kepalaku terasa pusing mengamati tiap baris syair-syair berbahasa arab yang harus kuhafalkan. Setiap baris dari sebuah buku kecil yang sudah usang. Berkeriput dan hampir sobek karena air hujan. Sebuah buku yang menjadi pegangan setiap santri di Pesantren itu. Para santri biasa menyebutnya dengan kitab nadloman. Setiap bait-bait yang harus kuhafalkan dan akan kusetorkan setiap ba’dha sholat maghrib. “ Tur, tangi. Udah adzan maghrib lo. Masih aja tidur di pojokan, awas air liurnya netes, hahaha..,”suara menggelegar Toni membuatku yang sedang terkantuk-kantuk itu menjadi terbangun. “Ahh..kowe ki..bikin kaget aja. Ini lho setoranku kurang satu baris lagi. Udah setengah jam gak hafal-hafal huh, “ gumamku sembari bangun dan meletakkan buku...

Read More

kategori

video

Loading...