Bulan Dzulhijjah adalah bulan disunahkannya menyembelih hewan kurban dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kitab Fathul Qorib, hewan ternak yang dapat dijadikan hewan kurban diantaranya adalah unta (Camelus sp.), sapi (Bos taurus), kerbau (Bubalus bubalis), kambing (Capricornis sp., Capra aegagrus hircus, dsb.), dan domba (Ovis aries). Hewan-hewan tersebut termasuk dari hewan jinak yang dapat diternakkan.
Dalam biologi klasifikasi, hewan kurban tergolong dari hewan berkuku genap (Artiodactyla) yang masih masuk dalam kelas Mamalia. Ordo Artiodactyla memiliki sembilan famili. Adapun yang terdapat hewan kurban yaitu Bovidae (sapi, kambing, dan kerbau) dan Camelidae (unta). Bovidae adalah golongan binatang ruminansia (pemamah biak) yang sebagian besar anggotanya adalah hewan ternak. Hal yang membedakan bovidae dengan artiodactyla pemamah biak yang lain seperti Rusa (familia Cervidae) adalah inti tulang yang dilindungi selubung yang tumbuh dari tulang frontal (baca: depan) tengkorak. Berbeda dengan tanduk rusa, tanduk bovidae tidak bercabang dan tidak pernah rontok.
Mengapa Hewan Kurban Dipilih dari Ordo Artiodactyla?
Hewan berkuku genap adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivora). Berbeda dengan ordo Carnivora yang familinya adalah pemakan hewan lain. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hewan berkuku genap cenderung bersifat santun dalam perolehan makanannya yakni tidak sampai melakukan perampasan hak hidup hewan lain. Sedangkan hewan karnivora ada proses menyakiti dan mengambil nyawa hewan lain, bahkan di beberapa kasus dapat melakukan aksi kanibalisme terhadap sesamanya. Berdasarkan hal tersebut, jika diambil hikmahnya, hewan yang akan dipersembahkan kepada Allah tentulah hewan yang baik, tidak bertindak kasar apalagi brutal. Kebaikan ini terbukti dari tumbuhan tidak sampai terbunuh.
Di samping itu, pertanyaan muncul, mengapa herbivora yang lain tidak tergolong hewan kurban seperti ordo hewan berkuku ganjil (Perissodactyla) yaitu kuda, hewan berbelalai (Proboscidea) yaitu gajah, atau famili lain yang masih satu ordo yaitu Cervidae (rusa), Suidae (babi), dan Giraffidae (jerapah). Syariah Allah tentunya tidak tanpa alasan. Jika yang disyariatkan hewan gajah bukankah sangat mengancam kepunahan. Induk gajah bisa 18 sampai 22 bulan bisa melahirkan anak gajah. Belum lagi, hewan rusa yang cukup liar sehingga sulit diternakkan bahkan di Indonesia sendiri tergolong hewan yang dilindungi. Jerapah, dengan tinggi tubuh 3-4 m dan berat 4-7 ton, bagaimana untuk bisa merobohkannya saat penyembelihan. Atau babi yang jelas-jelas memiliki banyak madlorot sehingga diharamkan.
Sementara itu, hewan-hewan yang tergolong hewan kurban memiliki keunggulan diantaranya seperti tinggi protein, dapat diternakkan secara berkelanjutan, memiliki risiko zoonosis1 minim, dan bukan termasuk hewan yang terancam punah. Maka dengan tingginya angka permintaan hewan kurban dan pemenuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi secara maksimal.
Hubungan Energi Biomassa Pada Tingkat Trofik di Ekosistem
Dalam ekologi, salah satu cabang dari biologi dijelaskan bahwa energi matahari yang berupa materi anorganik bersama dengan air dan gas karbon dioksida dapat diubah menjadi karbohidrat. Energi matahari yang Allah siapkan bagi penduduk bumi tidak bisa diserap langsung oleh manusia menjadi energi. Proses fotosintesis lah yang dapat mengubah energi tersebut menjadi energi biomassa sebagai sumber tenaga untuk bisa beribadah kepada Allah.
Gambar 1. Ilustrasi piramida energi biomassa dalam ekosistem
Sumber: biologynotesonline.com
Berdasarkan gambar 1, tampak bahwa energi biomassa dari matahari lalu produsen (tumbuhan), konsumen tingkat 1 (didominasi oleh hewan herbivora), konsumen 2 (karnivora), konsumen tingkat 3 (omnivora2), konsumen puncak, hingga dekomposer3 mengalami penurunan. Jika demikian, mengapa tidak memakan tumbuhan yang banyak-banyak karena energinya lebih besar dari tingkat di diatasnya? Tidak demikian, hasil fotosintesis hanya menghasilkan gula (karbohidrat), meskipun ada beberapa yang menghasilkan protein nabati sebagai produk sekunder. Tetaplah tidak bisa menggantikan fungsi dari protein hewani. Sebagai zat pembangun dan perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, protein diperoleh dari hewan berdaging merah, terutama. Bagaimana bisa beribadah dengan semangat dan tidak loyo jika otot tubuh kekurangan protein.
Sebagaimana dalam hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan melainkan dapat diubah ke bentuk lain. Melalui siklus rantai makanan, manusia bisa memperoleh energi kehidupan dengan perantara tumbuhan dan atau hewan herbivora. Energi yang bersumber dari matahari, akan terus mengalir hingga kembali ke bumi menjadi bahan organik yang akan diserap tumbuhan lagi hingga seterusnya.
Lalu mengapa tidak termasuk hewan karnivora atau hewan setingkat diatasnya? Dilihat dari kadar energi biomassa saja sudah tampak (Gambar 1). Hewan karnivora yang termasuk tingkat trofik 3, memiliki kadar biomassa 0,1 % dari tingkat trofik 2 (2.000 kkal4) yaitu 200 kkal per meter persegi setiap tahunnya. Saat manusia makan tumbuhan, energi yang diperoleh adalah separuh dari 20.000 kkal (10.000 kkal) karena sebagian energi digunakan untuk kehidupannya. Lalu jika mengonsumi hewan herbivora (tingkat 2) hanya mendapat 1.000 kkal karena separuhnya digunakan hewan untuk hidup. Apalagi jika naik ke konsumen lebih tinggi seperti ular atau burung elang tentu energinya semakin sedikit. Dengan segala effort dan penggunaan gas elpiji untuk memasak, apa yang diperoleh? Bisa dibilang sia-sia dan membuang waktu, belum tentu semua usaha yang dikerahkan untuk memasak setara dengan energi yang akan diperoleh. Walaupun perutnya sama-sama kenyang. Jadi, secara ekonomis, lebih baik memilih hewan herbivora atau karnivora? Tentu Anda sudah tahu jawabannya.
Fakta tersebut selaras dengan perintah Allah mengenai hewan yang halal dan haram dikonsumsi. Dari sini, penulis tidak riset lebih jauh tentang fakta sains hewan yang diharamkan, tetapi hanya sedikit saja. Hal-hal yang sudah dilarang oleh Allah pasti ada madlorot dibaliknya. Jadi, sebagai hamba hanya bisa tunduk pada perintah Allah. Tentang status hewan halal pun juga pasti ada segudang manfaat jika ditinjau dari sisi ilmiah, apalagi sampai disunahkan secara muakkad untuk dikurbankan.
Lebih lanjut, jika ada pertanyaan mengapa Allah tidak menciptakan hewan herbivora saja tetapi ada karnivora dan omnivora? Tidak lain tidak bukan adalah untuk menjaga keutuhan ekosistem. Bisa dibayangkan ketika hanya ada hewan herbivora, hutan-hutan yang lebat, vegetasi tumbuhan yang rapat bisa dibabat habis oleh hewan herbivora. Apalagi jika mereka beranak pinak, hingga pertumbuhan tumbuhan tidak dapat mengimbangi, punahlah dunia. Adanya interaksi predator dan mangsa tentunya adalah bagian dari menjaga lingkungan tetap lestari. Dengan memberikan waktu bagi tumbuhan untuk regenerasi, tidak akan ada musim paceklik.
Adanya syariat kurban adalah bentuk rasa sayang Allah kepada manusia, kepada alam semesta yang meliputi pengontrolan terhadap lingkungan, pemilihan zat gizi yang baik, dan manifestasi dari bentuk penghambaan kepada Allah. Pemilihan hewan dari ordo hewan berkuku genap pun tidak lepas dari keunggulan baik sisi sikap (behavior), kandungan gizi, dan pertimbangan energi biomassa.
Tanpa memandang kasta, seluruh lapisan masyarakat mendapatkan kesempatan perbaikan gizi. Bahkan saking sayangnya Allah kepada manusia, hari penyembelihan kurban diperpanjang hingga 13 Dzulhijjah. Jika saja tidak ada hari kesunahan menyembelih hewan kurban, akankah manusia dengan sukarela berbagi daging kepada para fakir miskin dan orang-orang terlantar? Kurban bukan sebuah paksaan, tetapi adalah bentuk kemanusiaan. Meskipun dalam hati kecilnya terselip harap-harap mendapatkan pahala, tetapi juga menyenangkan hati orang lain.
Glosarium
1Zoonosis: penyakit yang ditimbulkan dari penularan oleh hewan
2Omnivora: hewan pemakan segalanya baik tumbuhan maupun hewan
3Dekomposer: organisme yang menguraikan limbah dan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati
4kkal: kilo kalori yaitu satuan energi
Arinazfa
Mohon koreksi!