Kehidupan era digitalisasi tidak luput dari sejumlah permasalahan. Konten-konten yang ditampilkan menimbulkan berbagai perspektif dari banyak sudut, ada yang pro ada pula yang kontra. Tidak sedikit warganet yang kehidupan nyatanya berkebalikan dengan dunia maya, dimana untuk mencapai popularitas dan FYP, rela melakukan hal-hal yang berlawanan dengan nuraninya. Hatinya menginginkan A, ternyata yang dilakukan adalah B. Hal ini juga seringkali menyebabkan diri seseorang menjadi diliputi kecemasan berlebih jika tidak mengikuti tren masa kini.
Media sosial saat ini seakan menjadi kiblat gaya hidup bagi sejumlah orang. Mulai dari fesyen, makanan, liburan, hingga gaya hidup hedon menjadi bayang-bayang yang mengancam kesehatan mental. Jika tidak mengikuti standar seperti itu, memunculkan adanya ketidakpuasan bahkan perasaan tidak bahagia, padahal tolok ukur kebahagian itu bukanlah orang lain, melainkan dari dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini, banyak muncul argumen ‘hidup ala filsafat stoik’. Berakar dari ajaran Heraclitus, kaum stoik mempercayai bahwa manusia terhubung dalam akal‒logos‒yang sama. Setiap orang adalah mikrokosmos‒dunia mini‒dari makrokosmos yang lebih besar. Anggapan ini menimbulkan pemikiran bahwa dunia mikrokosmos diatur oleh hukum alam‒sunnatullah‒yang universal.
Rekomendasi bacaan: Idul Qurban
Setiap orang untuk mencapai kebahagiaan tentunya melalui proses perjuangan yang panjang. Jatuh bangun kehidupan yang tidak dapat terelakkan dan jalan hidup yang tidak selalu mulus. Konten-konten tentang kesuksesan seseorang yang tampil di media sosial mungkin membuat motivasi bagi sebagian orang untuk terus maju, tetapi bagi sebagian yang lain mungkin saja menimbulkan pukulan telak. Bagaimana tidak terpukul, sudah berusaha sekeras apapun, hasilnya masih tidak sesuai ekspektasi. Diulangi terus, ya masih begitu-begitu saja seperti tidak ada perubahan.
Lalu, bagaimana menyikapi kehidupan yang serasa didikte oleh orang lain? Simak tiga hal berikut ini.
Pelajaran Pertama Stoikisme: Menerima Hukum Alam
Kaum stoik menegaskan bahwa segala proses alam yang terjadi seperti penyakit dan kematian selalu mengikuti hukum alam. Maka dari itu, hendaklah manusia selalu belajar menerima takdirnya. Segala yang ada pasti ada sebab musababnya dan tentu tidak terjadi secara kebetulan. Jika takdir sudah mengetuk pintu, segala keluh kesah sudah tidak ada gunanya. Seringkali harapan-harapan yang tidak sesuai dengan ekspektasi membuat hati terpukul, mengurung diri, dan enggan bangkit lagi. Padahal di setiap kejadian pasti ada hikmah yang terselubung. Saat itu mungkin belum diketahui, tapi suatu saat pasti akan menyadari kebaikan Allah di balik hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan.
Selaras dalam surat al-Baqarah ayat 216.
… وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
Artinya: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Q.S. al-Baqarah (2): 216).
Alam semesta adalah serangkaian dari hal-hal yang teratur dan saling berkaitan. Seluruh kehidupan yang telah kita jalani sudah mengikuti hukum alam. Layaknya roda, semuanya pasti akan bergulir, susah-senang, gagal-sukses, miskin-kaya, dan banyak hubungan saling berkebalikan bisa terjadi. Stoik memberikan pilihan atas hidup kita saat ini, mau melawan dan menyangkal atau justru menerima dengan lapang dada bahkan mau mencintainya. Ajaran ini bukan sekadar ikhlas, tetapi sampai benar-benar mencintai hidup. Seperti pepatah Jawa hidup itu sawang sinawang, ada kalanya kita bersedih atas hidup kita, tapi di sisi lain ada yang ingin hidup seperti kita, berlaku pula sebaliknya.
Setiap orang di kehidupannya memiliki sebuah suratan takdir baik takdir mubram (takdir yang tidak dapat diubah) ataupun takdir mu’allaq (takdir yang dapat diubah). Selagi yang menimpa bukan takdir mubram, maka apapun yang terjadi masih bisa diubah dan diusahakan. Terlepas dari banyaknya perjuangan, kok ndilalah belum berhasil, itu pun bukan hal yang layak untuk dicerca. Seperti peribahasa “ ada banyak jalan menuju Roma” pasti akan ada hal lain yang lebih baik entah sesaat setelah itu, atau bahkan beberapa tahun di masa depan.
Friedrich Nietzsche mengatakan, “Formula untuk keagungan (greatness) manusia adalah ‘amor fati,’ yaitu tidak ingin apa pun menjadi berbeda, tidak ke depan, tidak ke belakang, tidak di sepanjang jalan keabadian…, tetapi mencintainya.” Ya, cintailah hidup kita.
Pelajaran Kedua Stoikisme: Kendalikan Dirimu
Epitectus, seorang tokoh stoikisme mengatakan “Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita ada pula hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.” Dalam stoikisme, kebahagiaan sejati hanya bisa ditentukan oleh hal-hal yang bisa dikendalikan dari dalam‒faktor internal‒diri seseorang dan melepaskan apa yang tidak bisa dikendalikan. Prinsip tersebut dikenal dengan istilah dikotomi kendali.
Hal-hal yang sederhana seperti terjebak kemacetan di jalan, mangkuk pecah, jemuran kehujanan ataupun hal remeh yang bisa memicu kemarahan sesaat itu sebenarnya bisa dikendalikan. Apalagi dunia digital yang segalanya bisa diakses melalui ponsel pintar seperti pencapaian seseorang, berita gosip, rumor, dan segalanya bisa diakses dalam hitungan detik. Tanpa diminta pun, terkadang muncul tiba-tiba. Dalam sesaat, jemari terasa gatal untuk mengetikkan sebaris kata yang entah bernilai baik atau buruk bisa terlontar tanpa filter.
Oke lah, jika itu hal baik. Bagaimana jika hal buruk yang justru dibimbing oleh akal. Niscaya ketenangan pikiran akan semakin sulit dijangkau. Dalam jangka waktu tertentu setelah tindakan buruk dilakukan pasti akan menimbulkan kecemasan lalu overthinking, hingga hidupnya terasa tidak nyaman. Bagus jika mau meminta maaf setelah itu, setidaknya sudah mau mengakui kesalahan. Jika tidak, pasti akan terus dihantui sepanjang hidupnya. Meskipun luarannya tampak baik-baik saja, tapi jauh di dalam dirinya pasti menderita.
Seorang Kaisar Romawi, Marcus Aurelius dalam bukunya ‘Meditations’ menuliskan, “Jika kamu tertekan oleh oleh sesuatu di luar kendalimu, itu bukan hal yang mengganggumu, tetapi penilaianmu terhadapnya. Kamu punya kendali atas penilaian itu.” Maka, apapun yang dilihat, baik di dunia nyata atau di dunia maya tidak sekadar bisa langsung dikomentari. Setiap hal yang tidak sesuai dengan keingingan pun masih bisa dipikirkan jalan lain, dan tenanglah. Intinya, jangan sampai terjebak pada satu hal sampai-sampai menyakiti orang lain, terlebih menyakiti diri sendiri.
Pelajaran Ketiga Stoikisme: Bersyukur
Saat penjara media sosial mengekang seseorang untuk selalu mengikuti tren, mungkin saja terdapat monolog dalam hatinya, “Kenapa ya aku kok mengikuti tren itu, memalukan” atau ungkapan lain, “Aduh, aku terlanjur terjun mengikuti tren, gimana ini aku sudah tidak sanggup lagi. Kalau aku undur diri, nanti aku dicap nggak mampu,” dan masih banyak lagi. Memang menjadi terkenal itu bisa menimbulkan banyak hal positif, tapi di sisi lain juga bisa menimbulkan hal yang cenderung menyakiti diri sendiri. Tentu tidak mau, bukan, menjadi budak dunia yang belum tentu nyata itu?
Mengutip ucapan Seneca dalam On Shortness of Life dalam Filosofi Teras (Henry Manampiring) bahwa kebutuhan hidup manusia berdasarkan yang ditetapkan oleh alam tidaklah besar, tetapi ketidakpuasan manusia lah yang ingin mengejar hal-hal lebih banyak lagi. Hal-hal demikian ini jika terus diikuti hanya akan mengantarkan pada sikap kurang bersyukur. Banyak sedikitnya harta benda seakan tidak membuat hatinya bahagia.
Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali seperti, opini, status, postingan media sosial, popularitas orang lain hanya akan membuat ketenangan diri memudar. Hal semacam ini tidaklah rasional karena pelaku kehidupan yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Dalam pandangan Seneca, rasionalitas lebih memfokuskan emosi pada keseimbangan moral. Ia menolak hedonisme yang cenderung hanya fokus pada kesenangan lahiriah. Sebaliknya, kehidupan sebenarnya didasarkan pada kehidupan rasional dan penguasaan diri yang tepat.
Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras” (Q.S. Ibrahim (14): 7).
“Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak menginginkan apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima” (Seneca).
Demikianlah tiga pelajaran ringkas dari stoikisme. Hal-hal sederhana yang tidak harus wow, itu sudah cukup membahagiakan. Tidak harus dikenal, cukup mengenali diri sendiri bahwa kebahagiaan ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain. Toh yang menjalani dan menikmati hidup adalah diri kita sendiri, bukankah begitu?
Baca juga: Hewan Kurban: Latar Belakang dan Nilai Ekonomis
Bagian satu.
Mohon koreksi,
Arinazfa